Pemerintah mengalokasikan Rp757,8 triliun untuk pendidikan pada 2026. Dari jumlah itu, bantuan operasional yang mengalir ke 201 perguruan tinggi negeri tercatat Rp9,4 triliun. Bagi sebagian besar kampus, apalagi yang swasta, pesannya cukup jelas: ruang gerak anggaran tidak melebar, sementara tuntutan mutu terus naik.

Efisiensi bukan berarti memangkas

Reaksi pertama saat anggaran ketat biasanya seragam — potong pos ini, tunda kegiatan itu. Masalahnya, pemotongan yang tidak selektif justru menggerus hal yang paling mahal untuk dipulihkan: mutu akademik dan kepercayaan mahasiswa. Efisiensi yang sehat bekerja sebaliknya. Ia mencari pekerjaan yang menghabiskan sumber daya tanpa menambah nilai, lalu menghapus pekerjaannya, bukan menghapus layanannya.

Tiga pemborosan yang jarang terlihat

Ketiganya bukan soal staf yang kurang rajin. Ini soal proses yang belum dirapikan.

Belajar dari model kode terbuka

Salah satu jalan yang mulai ditempuh adalah membuka kode sumber sistem akademik. Sikampus Public License, misalnya, membuka kode Sikampus sehingga kampus dapat memasang dan menyesuaikan sistemnya sendiri tanpa terikat biaya lisensi. Nilainya bukan sekadar bebas biaya. Kampus memegang kendali atas datanya, bisa menyelaraskan alur kerja dengan statuta dan kebijakan internal, serta terhindar dari ketergantungan pada satu vendor.

Model ini jelas bukan solusi instan. Kampus tetap perlu orang yang mampu memasang, merawat, dan mengamankan sistemnya. Namun justru di situ letak perpindahan biayanya: dari sewa lisensi tahunan menjadi investasi pada kapasitas internal yang nilainya tinggal di kampus.

Penutup

Efisiensi yang berkelanjutan lahir dari keputusan tata kelola, bukan dari surat edaran pemangkasan. Pertanyaan yang layak diajukan pada rapat pimpinan berikutnya sederhana: pekerjaan mana di kampus kita yang dikerjakan berulang-ulang tanpa menambah nilai?


Sumber:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *